PERTEMUAN 4 : Pengembangan E-learning dalam Pembelajaran Kimia


Pengembangan e-learning dalam pembelajaran kimia



Pembelajaran elektronik atau e-learning telah dimulai pada tahun 1970-an (Waller and Wilson, 2001). Berbagai istilah digunakan untuk mengemukakan pendapat/gagasan tentang pembelajaran elektronik, antara lain adalah: on-line learning, internet-enabled learning, virtual learning, atau web-based learning. Ada 3 (tiga) hal penting sebagai persyaratan kegiatan belajar elektronik (e-learning), yaitu: (a) kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan (“jaringan” dalam uraian ini dibatasi pada penggunaan internet. Jaringan dapat saja mencakup LAN atau WAN). (Website eLearners.com), (b) tersedianya dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta belajar, misalnya CD-ROM, atau bahan cetak, dan (c) tersedianya dukungan layanan tutor yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami kesulitan. Di samping ketiga persyaratan tersebut di atas masih dapat ditambahkan persyaratan lainnya, seperti adanya: (a) lembaga yang menyelenggarakan/mengelola kegiatan e-learning, (b) sikap positif dari peserta didik dan tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet, (c) rancangan sistem pembelajaran yang dapat dipelajari/diketahui oleh setiap peserta belajar, (d) sistem evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta belajar, dan (e) mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara.
Dengan demikian, secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa pembelajaran elektronik (e-learning) merupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (Internet, LAN, WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai bentuk layanan belajar lainnya.
Pengembangan model e-learning merupakan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Dalam hal ini Rosenberg (2001) mengkatagorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning, yaitu: (1) E-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Persyaratan ini sangat penting sehingga dikatakan sebagai persyaratan absolut. (2) e-learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. CD ROM, Web TV, Web Cell Phones, Pagers, dan alat bantu digital personal lainnya walaupun bisa menyiapkan pesan pembelajaran tetapi tidak bisa digolongkan sebagai e-learning. (3) e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang mengungguli paradigma tradisional dalam pelatihan.
Dalam pengembangan model e-learning perlu rancangan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan, khususnya dalam penggunaan internet. Menurut Haughey (Anwas, 2000) ada tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet, yaitu web course, web centric course, dan web enhanced course. Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disamapaikan melalui internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh. 
Web centric course adalah penggunaan internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampaikan melalui internet, dan sebagian lagi melalui tatap muka. Dalam model ini pengajar bisa memberikan petunjuk pada siswa untuk mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya. Siswa juga diberi arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pengajar lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui internet.
Sedang model ketiga, web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Fungsi internet adalah untuk memberikan pengayaan dan komunikasi antara peserta didik dengan pengajar, sesama peserta didik, anggota kelompok, atau peserta didik dengan nara sumber lain. Peran pengajar dalam model ini dituntut untuk menguasahi teknik mencari informasi di internet, membimbing mahasiswa mencari dan menemukan situs-situs yang relevan dengan bahan pembelajaran, menyajikan materi melalui web yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.
Dari ketiga model yang ditawarkan Haughey di atas, mana yang lebih baik tentunya tergantung kapan model tersebut digunakan, namun yang penting diperhatikan adalah keseluruhan aspek-aspek pendidikan di dalamnya, bukan hanya aspek kognitif semata, tapi juga aspek psikomotor dan afektif secara terpadu. Di samping itu aspek-aspek psikologi dan sosial budaya menjadi bahan pertimbangan juga ketika e-learning ini disampaikan. 
Beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan dalam memanfaatkan e-learning, sebagaimana para ahli pendidikan dan internet menyarankan hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum seseorang memilih internet untuk kegiatan pembelajaran (Bullen, 2001; Hartanto dan Purbo, 2002; Soekartawi et.al, 1999; Yusup Hashim dan Razmah, 2001) antara lain: (1) Analisis Kebutuhan (Need Analysis), (2) Rancangan Instruksional, (3) Tahap Pengembangan,(4)Pelaksanaan,(5)Evaluasi.
Masalah akses untuk bisa melaksanakan e-learning seperti ketersediaan jaringan internet, listrik, telepon dan infrastruktur yang lain. (2) Masalah ketersediaan software (piranti lunak). Bagaimana mengusahakan piranti lunak yang tidak mahal. (3) Masalah dampaknya terhadap kurikulum yang ada. (4) Masalah skill and knowledge. (5) Attitude terhadap ICT.
Strategi penggunaan e-learning untuk menunjang pelaksanaan proses belajar, diharapkan dapat meningkatkan daya serap dari mahasiswa atas materi yang diajarkan; meningkatkan partisipasi aktif dari mahasiswa; meningkatkan kemampuan belajar mandiri mahasiswa; meningkatkan kualitas materi pendidikan dan pelatihan, meningkatkan kemampuan menampilkan informasi dengan perangkat teknologi informasi, dengan perangkat biasa sulit untuk dilakukan; memperluas daya jangkau proses belajar-mengajar dengan menggunakan jaringan komputer, tidak terbatas pada ruang dan waktu. Untuk mencapai hal-hal tersebut di atas, dalam pengembangan suatu aplikasi e-learning perlu diperhatikan bahwa materi yang ditampilkan harus menunjang penyampaian informasi yang benar, tidak hanya mengutamakan sisi keindahan saja; memperhatikan dengan seksama teknik belajar-mengajar yang digunakan; memperhatikan teknik evaluasi kemajuan mahasiswa dan penyimpanan data kemajuan mahasiswa.
Materi dari pendidikan dan pelatihan dapat diambil dari sumber-sumber yang valid dan dengan teknologi e-learning, materi bahkan dapat diproduksi berdasarkan sumber dari tenaga-tenaga ahli (experts). Misalnya, tampilan video digital yang menampilkan seorang ahli mekanik menunjukkan bagaimana caranya memperbaiki suatu bagian dari mesin mobil. Dengan animasi 3 dimensi dapat ditunjukkan bagaimana cara kerja dari mesin otomotif dua langkah.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat berpotensi un-tuk mendukung revolusi pembelajaran, dengan enam dimensi kunci (JISC, 2004: 7): (1) Konektivitas: akses informasi secara global; (2) Fleksibilitas: belajar dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja; (3) Interaktivitas: interaksi antara pelajar dan materi pelajaran serta lingkungan belajar maupun sumber belajar dapat dilakukan seketika dan secara langsung; (4) Kolaborasi: penggunaan fasilitas komunikasi dan diskusi online mendukung pembelajaran kolaboratif di luar kelas; (5) Memperluas kesempatan: materi e-learning dapat memperkaya dan memperluas materi pembelajaran tatap muka; dan (6) Motivasi: pemakaian multimedia dapat membuat suasana belajar menyenangkan. Selain itu, seperti disebutkan di dalam buku panduan “Effective Practice with e-Learning” oleh The Joint Information Systems Committee (JISC) Inggris, terdapat beberapa keuntungan TIK bagi para praktisi di dalam melacak dan memantau kemajuan belajar siswa. Salah satu bentuk pemanfaatan TIK dalam pembelajaran adalah e-learning.
Menurut Panduan E-Learning Efektif dari JISC tersebut (JISC, 2004: 10), e-learning didefinisikan sebagai belajar yang didukung dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, dan dapat melibatkan penggunaan beberapa atau semua teknologi: komputer dekstop/laptop, software (termasuk software bantu), papan tulis interaktif, kamera digital, peralatan mobil dan nirkabel (termasuk telpon genggam), peralatan komunikasi elektronik (termasuk email, papan diskusi, fasilitas chatting, dan konferensi video, telekonferensi), lingkungan belajar maya (VLE, virtual learning environment), dan sistem manajemen aktivitas pembelajaran (CMS, course management system; LMS, learning management system). Bagi kalangan awam, istilah e-learning secara lebih sempit diartikan pembelajaran berbasis Web (online) dengan menggunakan jaringan komputer (baik intranet maupun Internet) sebagai media deliveri materi dan media komunikasi.



  • PENGEMBANGAN BAHAN AJAR SISTEM KOLOID BERBASIS E-LEARNING


Mata pelajaran kimia sering dianggap sebagai pelajaran yang sulit karena materi kimia merupakan materi yang bersifat abstrak. Sebagian besar ilmu kimia merupakan ilmu percobaan dan sebagian besar pengetahuannya diperoleh dari penelitian di laboratorium (Chang, 2003). Belajar kimia pada dasarnya berangkat dari fakta yang ditemukan menuju konsep mikroskopik dan submikroskopik yang kemudian disimbolkan. Sehingga siswa cenderung lebih sulit memahami konsep mikroskopik dan submikroskopik tersebut. Sehingga perlu dikembangkan alat bantu berupa media pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh dari fakta (makroskpik) menuju konsep abstrak (mikroskopik dan sub mikroskopik). Salah satu materi dalam pembelajaran kimia adalah sistem koloid. Sistem koloid bersifat kontekstual, dekat dengan kehidupan sehari-hari dan beberapa sifatnya merupakan konsep mikroskopik. Materi sistem koloid biasanya siswa diminta untuk menghafal saja, padahal siswa dapat memperoleh berbagai macam sumber belajar. Pemanfaatan internet dapat memberikan berbagai macam sumber mengenai materi sistem koloid serta video dan animasi yang dapat memberikan pengetahuan konsep mikroskopik materi sistem koloid.
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang mengandung informasi yang dapat memfasilitasi pebelajar untuk memperoleh informasi yang diperlukannya dalam belajar. Atas dasar pengertian tersebut sumber belajar dikategorikan kedalam enam kelompok yaitu pesan, orang, bahan, alat, tenik, dan latar atau lingkungan. Sedangkan yang dimaksud dengan bahan ajar adalah barang-barang yang mengandung pesan, termasuk buku pelajaran dan perangkat lunak (Sitepu, 2008). Sedangkan menurut Irzan Tahar, dkk (2006) sumber belajar adalah suatu sistem yang terdiri dari sekumpulan bahan atau situasi yang diciptakan dengan sengaja dan dibuat agar memungkinkan seseorang dapat belajar secara individual. Bahan ajar memiliki peran sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Maka dari itu, sangat diperlukan pengembangan bahan ajar. perlu dikembangkan bahan ajar yang dapat mengakomodir kebutuhan belajar siswa dalam hal keluasan referensi, membangun komunikasi yang efektif antara guru dengan siswa serta mengakomodir kebutuhan siswa dalam menghadapi era teknologi informasi dan komunikasi tanpa meninggalkan faktor pemahaman dan keterampilan siswa dalam proses pembelajaran. Salah satunya dengan memanfaatkan kecanggihan dan kemudahan internet yang disebut dengan e-learning.
E-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi, komunikasi dan informasi khususnya internet (Kwartolo, 2010). Sedangkan menurut Hartley (2001), e-learning merupakan jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet, atau media jaringan komputer lain. Secara umum e-learning mampu menyajikan pengalaman belajar yang bermakna melalui pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi. Elearning memiliki beberapa keunggulan yaitu dapat memfasilitasi komunikasi dan interaksi antara siswa dengan tenaga pengajar dan narasumber ahli, meningkatkan kolaborasi antar siswa untuk membentuk komunitas belajar, mendorong siswa untuk secara mandiri mencari sumber belajar dan mencapai makna, memberikan akses keapada beragam sumber belajar (Pannen, 2005). Komunikasi dalam e-learning dilaksanakan dengan dua cara yaitu secara langsung (synchronous training) dan tidak langsung (asynchronous training). Menurut Susanti dan Sholeh (2008), synchronous training adalah tipe proses kegiatan belajar mengajar yang terjadi bersamaan, sedangkan asynchronous training adalah tipe pelatihan dimana proses pembelajaranan tidak terjadi pada waktu yang bersamaan. Contoh synchronous training terjadi pada saat kegiatan chat dan forum diskusi dimana guru dan siswa melakukan kegiatan online pada saat bersamaan dan terjadi interaksi. Sedangkan contoh kegiatan asynchronous training adalah ketika siswa belajar dan mengajukan pertanyaan dalam e-learning, akan tetapi guru tidak menjawab pada saat yang bersamaan. Namun, terdapat beberapa kelemahan e-learning yaitu e-learning membutuhkan dukungan jaringan yang tepat dan stabil, banyak guru yang belum siap menggunakan e-learning dan memanfaatkan internet dalam proses pembelajaran, serta keterbatasan jumlah komputer yang dimiliki siswa juga dapat menghambat penggunaan e-learning.
 LMS adalah pengelolaan interaksi proses pembelajaran berbasis TIK melalui websites (Munir, 2010). LMS didesain untuk mengembangkan konten materi ajar berbasis e-learning. Tujuan dari LMS adalah mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah. Salah satu software LMS yang banyak digunakan di dunia adalah MOODLE (Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment). Moodle memiliki kelebihan yaitu mudah digunakan oleh siapapun, walaupun tidak memiliki kemampuan pemrogaman sekalipun. LMS juga dilengkapi fitur-fitur yang dapat memenuhi semua kebutuhan pembelajaran termasuk kuis, forum, chat, dan link ke web lain.
Produk yang dihasilkan berupa bahan ajar sistem koloid berbasis e-learning yang dapat diakses melalui alamat e-learning.fmipa.um.ac.id. Bahan ajar sistem koloid berbasis e-learning dibagi menjadi lima topik yaitu identifikasi larutan, suspensi, dan koloid, macamacam sistem koloid, sifat-sifat koloid, pembuatan koloid, dan aplikasi sifat koloid dalam kehidupan sehari-hari. Bagian pembuka e-learning dilengkapi dengan gambar, pernyataan pembuka, dan lagu bertema sistem koloid. Topik pertama mengenai identifikasi larutan, suspensi, dan koloid dilengkapi dengan handout, prosedur percobaan, link ke website lain, link video mengenai identifikasi larutan, suspensi, dan koloid berbahasa Indonesia dan Inggris, serta kuis online. Topik kedua tentang macam-macam sistem koloid dilengkapi dengan handout, link ke website lain, kuis online, dan soal uji pengetahuan. Topik ketiga tentang sifat-sifat koloid dilengkapi dengan dua link ke website lain, link video Efek Tyndall berbahasa Indonesia dan Inggris, link video Gerak Brown berbahasa Indonesia dan Inggris, link video tambahan mengenai Cleansing action of Soap, serta kuis online. Topik keempat tentang pembuatan koloid dilengkapi dengan link ke website lain, prosedur percobaan, dan kuis online. Topik kelima tentang aplikasi sifat koloid dalam kehidupan sehari-hari dilengkapi dengan dua link ke website lain, dan tugas diskusi kelompok. Setiap topik dilengkapi dengan gambar dan pernyataan pembuka serta fasilitas forum dan chat untuk memudahkan diskusi siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa. Bagian evaluasi dilengkapi dengan rangkuman dan soal evaluasi. Tersedianya beberapa sumber belajar yang beragam dan dapat diakses setiap saat oleh siswa memungkinkan dapat mengakomodasi gaya dan kecepatan belajar siswa. Fasilitas forum dan chat diharapkan dapat meningkatkan interaksi antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru.





DAFTAR PUSTAKA


JISC.,2004, Efective Practice with e-Learning, A good practice guide in designing for learning. Bristol: HEFCE. http://www.jisc.ac.uk/elearning_pedagogy.html

Rosenberg, M.J., 2001, E-learning : Strategies for Delivering Knowledge in The Digital Age.           The McGraw : Hill Companies Inc.


Komentar

  1. Menurut anda , bagaimana cara mengatasi kekurangan dari e-learning ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. pada e-learning terdapat kelebihan dan juga beberapa kekurangan dari adanya e-learning dalam pembelajaran salah satu cara untuk meminimalisir dampak negatifnya tetap harus diadakan pertemuan tatap muka beberapa kali agar lebih saling mengenal dan memberikan nilai yang objektif, selain itu juga mahasiswa harus lebih aktif dalam proses elearning ini agar tidak tertinggal pelajaran.

      Hapus
  2. Dari penjelasan anda Ada 3 (tiga) hal penting sebagai persyaratan kegiatan belajar elektronik (e-learning), bagaimana jika salah satu dari keriga itu tidak dapat terlaksana? Apakah kegiatan e- learning masih bisa kita lakukan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin akan sulit karena pembelajaran elektronik (e-learning) merupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (Internet, LAN, WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai bentuk layanan belajar lainnya.
      Pengembangan model e-learning merupakan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Dalam hal ini Rosenberg (2001) mengkatagorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning, yaitu: (1) E-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Persyaratan ini sangat penting sehingga dikatakan sebagai persyaratan absolut. (2) e-learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. CD ROM, Web TV, Web Cell Phones, Pagers, dan alat bantu digital personal lainnya walaupun bisa menyiapkan pesan pembelajaran tetapi tidak bisa digolongkan sebagai e-learning. (3) e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang mengungguli paradigma tradisional dalam pelatihan.

      Hapus
  3. bisakah anda jelaskan apa kendala yang sering ditemui dalam penerapan e-learning ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Proses pembelajaran secara E-Learning haruslah merata pada semua wilayah, termasuk pada daerah terpencil. Minimnya akses informasi dan lingkungan bisa menjadi kendala bagi pemerataan E-Learning di daerah terpencil. Banyak permasalahan yang mengakibatkan E-Learning sulit untuk menjangkau ke wilayah terpencil, antara lain:
      Sulitnya akses jalan menuju sekolah. Akses jalan menuju sekolah di beberapa daerah terpencil yang sulit untuk dijangkau karena medan yang berat. Efektivitas E-Learning di sekolah terpencil menjadi sulit untuk diwujudkan.
      Jaringan Listrik yang belum memadai. Banyak daerah terpencil yang belum dialiri listrik mengakibatkan E-Learning susah untuk dilakukan, karena proses pembelajaran E-Learning harus menggunakan listrik.
      SDM yang belum mengerti pemakaian E-Learning. Para pengajar didaerah terpencil banyak yang belum paham dalam pemakaian perangkat elektronik yang menunjang E-Learning. Hal ini mungkin saja dikarenakan kurangnya akses informasi dan pelatihan yang diberikan.
      Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah telah meluncurkan akses intenet kecamatan yang tersebar di bebrbagai wilayah terpencil, tujuannya ialah akses internet dapat digunakan oleh masyakarat. Walaupun program ini belum terlalu efektif menjangkau masyakarat tertentu, akan tetapi minat masyarakat dalam memperoleh informasi interntetsangat tinggi. Hal ini tentu bisa dimanfaatkan dalam embrio E-Learning di daerah terpencil.

      Hapus
  4. pada pembelajaran melalui e-learning banyak terdapat kemudahan untuk murid dan guru dalam melakukan pembelajaran melalui jarak jauh dan tidak harus bertatap muka langsung akan tetapi terdapat kekurangan yang salah satunya guru tidak dapat mengontrol atau mengetahui apakah benar siswa tersebut mengerjakan tugasnya sendiri atau orang lain yg mengerjakannya, bagaimana menurut anda seorang guru dapat mengatasi permasalahan tersebut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalah tersebut dapat diatasi oleh diri siswa sendiri apakah mereka benar-bernar ingin belajar atau tidak, karena guru akan sulit untuk mengontrol hal tersebut. E-Learning dapat menjadi efektif apabila adanya kerjasama antara pengajar dan siswanya untuk mensukseskannya, tanpa salah satu dari keduanya keberadaan E-Learning tidak akan berjalan secara lancar. Untuk itulah diperlukan komunikasi yang erat antar keduanya.

      Hapus
  5. apa upaya anda supaya e-learning yang anda gunakan dapat menarik minat siswa untuk belajar?

    BalasHapus
  6. Apa faktor penting dalam keefektifan pada penerapan e-learning?

    BalasHapus
  7. menurut anda apakah pembelajran e-learning sudah efektif digunakan saat ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya pembelajaran e-learning ini sudah cukup efektif, dimana siswa dan guru dapat melakukan pembelajaran dimana saja dan kapan saja akan tetapi terdapat kekurangan dari pembelajaran melalui e-learning yaitu Kurangnya interaksi antara pengajar dan siswa atau bahkan antara siswa itu sendiri, bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar mengajar. menurut saya baik melalui e-learning atau pembelajaran tatap muka langsung sama efektifnya tergantung pada bagaimana guru dan siswa dapat berkomunikasi dengan baik agar proses pembelajaran lebih bermakna

      Hapus
  8. Bagaimana kita sebagai calon guru untuk menimalisir kekurangan e-leaning pada Kecenderungan seseorang siswa yang mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial ?

    BalasHapus
  9. menurut anda apakah e-learning yang semakin berkembang pesat ini dapat menggantikan posisi sekolah yang sekarang dijalani oleh siswa? jelaskan!

    BalasHapus
  10. menurut anda, apakah materi yang bersifat hapalan spt koloid juga masih memerlukan media untuk membabtu mempermudah proses oembelajaran?

    BalasHapus
  11. beberapa karakteristik peserta didik yang dapat mempengaruhi dari keberhasilan e-learning:

    1) Mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan komputer dan TIK lainnya, karena e-learning didukung oleh penggunaan komputer dan peralatan TIK.
    2) Motivasi untuk belajar, peserta didik harus mempunyai kesadaran untuk mempelajari bahan dan materi yang telah diberikan guru, bukan hanya belajar ketika di kelas saja.
    3) Disiplin, peserta didik harus disiplin untuk belajar, mengerjakan tugas, dan menentukan waktu dan tempat untuk belajar.
    4) Mandiri, kemandirian peserta didik mutlak diperlukan di dalam e-learning, karena tidak setiap saat antara peserta didik dan pendidik dapat bertatap muka. Pembelajaran tatap muka lebih bersifat sebagai diskusi antara peserta didik dengan pendidik, bukan sebagai transfer pengetahuan saja.
    5) Mempunyai ketertarikan terhadap e-literatur, karena hampir semua materi pembelajaran disajikan secara online ataupun melalui media elektronik.
    6) Dapat belajar secara sendirian (felling isolation), peserta didik yang ketika belajar harus secara berkelompok atau ada teman akan merasa kesulitan dengn e-learning.
    7) Mempunyai kemampuan kognitif yang cukup tinggi, peserta didik yang mengikuti e-learning hendaknya mempunyai kemampuan kognitif tingkat sintesis dan evaluasi, hal ini dapat untuk mengatasi permasalahan ketidakintesifan pendampingan pendidik dan teman sebayanya.
    8) Mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah, peserta didik yang dapat memecahkan masalah secara mandiri akan lebih mudah mengikuti e-learning.

    BalasHapus
  12. sedikit menambahkan
    E-learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).
    Komponen yang membentuk e-Learning adalah:
    1. Infrastruktur e-Learning: Infrastruktur e-Learning dapat berupa personal computer (PC), jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia. Termasuk didalamnya peralatan teleconference apabila kita memberikan layanan synchronous learning melalui teleconference.
    2. Sistem dan Aplikasi e-Learning: Sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasi proses belajar mengajar konvensional. Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), sistem ujian online dan segala fitur yang berhubungan dengan manajemen proses belajar mengajar. Sistem perangkat lunak tersebut sering disebut dengan Learning Management System (LMS). LMS banyak yang opensource sehingga bisa kita manfaatkan dengan mudah dan murah untuk dibangun di sekolah dan universitas kita.
    3. Konten e-Learning: Konten dan bahan ajar yang ada pada e-Learning system (Learning Management System). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk Multimedia-based Content (konten berbentuk multimedia interaktif) atau Text-based Content (konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran biasa). Biasa disimpan dalam Learning Management System (LMS) sehingga dapat dijalankan oleh siswa kapanpun dan dimanapun. Depdiknas cukup aktif bergerak dengan membuat banyak kompetisi pembuatan multimedia pembelajaran. Pustekkom juga mengembangkan edukasi.net yang mem-free-kan multimedia pembelajaran untuk SMP, SMA dan SMK. Juga mari kita beri applaus ke pak Gatot (Biro PKLN) yang mulai memberikan insentif dan beasiswa untuk mahasiswa yang mengambil konsentrasi ke Game Technology yang arahnya untuk pendidikan. Ini langkah menarik untuk mempersiapkan perkembangan e-Learning dari sisi konten

    BalasHapus
  13. Dalam pengembangan model e-learning perlu rancangan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan, khususnya dalam penggunaan internet.jelaskan.

    BalasHapus
  14. analisis kebutuhan yang seperti apa seingga menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan dalam pemanfaatan elearning ?

    BalasHapus
  15. dalam post ini, ada menjelaskan contoh materi koloid. nah, bagaimana dengan materi pelajaran yang lain, apakah efektif juga menggunakan pembelajaran e-learning?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seluruh materi kimia dapat dijelaskan melalui e-learning, tapi dalam pembelajarannya sebaiknya dikombinasikan dengan pertemuan tatap muka, agar menjadi lebih efektif.

      Hapus
  16. Apakah seluruh materi kimia dapat dijelaskan melalui e-learning?

    BalasHapus
    Balasan
    1. seluruh materi kimia dapat dijelaskan melalui e-learning, tapi dalam pembelajarannya sebaiknya dikombinasikan dengan pertemuan tatap muka, agar menjadi lebih efektif

      Hapus
  17. bagaimanakah cara anda untuk mengembangkan pembelajaran kimia dengan menggunakan e-learning?

    BalasHapus
  18. sedikit menambahkan,
    Media pembelajaran berbasis learning management system menjadi salah satu solusi yang bisa dipakai dalam proses pembelajaran. Beberapa alasan menggunakan media pembelajaran ini adalah(a) terjadi peningkatan efektivitas pembelajaran dan prestasiakademik siswa, (b) menambah kenyamanan, (c) menarik lebih banyak perhatian siswa kepada materi yang disampaikan dalam pembelajaran, (d) dapat diterapkan dengan berbagai tingkat dan model pembelajaran, dan (e) dapat menambah waktu pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi dunia maya (Kim, 2007:5; Kose, 2010:2796).Media pembelajaran berbasis LMS sangat berguna dalam menyediakan lingkungan/suasana belajar yang lengkap bagi siswa, karena penuh dengan penyediaan dokumen yang terkait modul dalam format elektronik, kesempatan untuk saling belajar bersama-sama,dan kesempatan untuk menyerahkan semua penilaian sumatif secara elektronik. Alasan lain yang mendukung perspektif tersebut adalah bahwa setiap siswa memiliki akses ke semua konten pembelajaran, memiliki fleksibilitas waktu dan momen yang paling cocok untuk kebutuhan siswa dalam belajar, dapat belajar dengan kemampuan kecepatan belajar masing-masing, dan berpartisipasi dalam kesempatan belajar yang interaktif (Alberst et al, 2007:55-56; Kose, 2010:2796).

    BalasHapus
  19. sedikit menambahkan,
    Media pembelajaran berbasis learning management system menjadi salah satu solusi yang bisa dipakai dalam proses pembelajaran. Beberapa alasan menggunakan media pembelajaran ini adalah(a) terjadi peningkatan efektivitas pembelajaran dan prestasiakademik siswa, (b) menambah kenyamanan, (c) menarik lebih banyak perhatian siswa kepada materi yang disampaikan dalam pembelajaran, (d) dapat diterapkan dengan berbagai tingkat dan model pembelajaran, dan (e) dapat menambah waktu pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi dunia maya (Kim, 2007:5; Kose, 2010:2796).Media pembelajaran berbasis LMS sangat berguna dalam menyediakan lingkungan/suasana belajar yang lengkap bagi siswa, karena penuh dengan penyediaan dokumen yang terkait modul dalam format elektronik, kesempatan untuk saling belajar bersama-sama,dan kesempatan untuk menyerahkan semua penilaian sumatif secara elektronik. Alasan lain yang mendukung perspektif tersebut adalah bahwa setiap siswa memiliki akses ke semua konten pembelajaran, memiliki fleksibilitas waktu dan momen yang paling cocok untuk kebutuhan siswa dalam belajar, dapat belajar dengan kemampuan kecepatan belajar masing-masing, dan berpartisipasi dalam kesempatan belajar yang interaktif (Alberst et al, 2007:55-56; Kose, 2010:2796).

    BalasHapus
  20. bagaimana proses evaluasi dalam pembelajaran e-learning ?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTEMUAN 1 : Landasan Teoritis Media Pembelajaran

PERTEMUAN 3 : TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA